Cara Kubik Society Curi Hati Konsumen: Cerita Penjahit Jadi Daya Tarik Brand

Author

Galih Aprilia Wibowo

Published

Thursday, 9 July 2026

Category

Blog

Cara Kubik Society Curi Hati Konsumen: Cerita Penjahit Jadi Daya Tarik Brand
Literaworks.com - Kubik Society menunjukkan bahwa cerita di balik proses produksi dapat menjadi pembeda sebuah brand. Dengan mengangkat sosok para penjahit, brand ini membangun hubungan emosional dan kepercayaan konsumen melalui pendekatan yang lebih humanis. (istimewa/Instagram/kubiksociety.official)

Merek busana lokal, Kubik Society, baru-baru ini ramai diperbincangkan. Strategi branding tersebut menarik perhatian warganet karena memberikan ruang bagi sosok yang selama ini jarang tampil di depan layar.

Kubik Society menampilkan nama, wajah, dan cerita singkat para penjahit di setiap label baju mereka. Hal ini bukan hanya identitas produk, tetapi menjadi bentuk apresiasi terhadap orang-orang yang selama ini bekerja di balik proses produksi.

Di balik Kubik Society ada Ahmad Fauzan Tirmidzi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berhasil membangun brand fesyen sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi para penjahit lokal di Kota Solo.

Nilai inilah yang kemudian membentuk identitas Kubik Society sebagai brand yang tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga menghargai manusia yang menciptakannya.

Di era mass market, industri fesyen dipenuhi produk dan merek baru yang terus bermunculan. Banyak brand berlomba-lomba merilis koleksi terbaru, mengikuti tren, hingga bersaing lewat harga.

Akibatnya, persaingan sering kali hanya berkutat pada model, harga, atau desain. Padahal, konsumen saat ini tidak lagi membeli produk hanya karena mereknya terkenal. Kubik Society justru menghadirkan nilai yang berbeda.

Mereka mengajak konsumen mengenal siapa yang menjahit pakaian tersebut, bagaimana prosesnya, serta nilai apa yang dipegang oleh brand. Produk yang dibeli akhirnya memiliki cerita yang membuat pengalaman berbelanja terasa lebih personal.

Pendekatan tersebut memberikan beberapa nilai tambah bagi konsumen, antara lain:

  • Produk terasa lebih personal karena memiliki cerita di balik proses pembuatannya.
  • Konsumen mengetahui siapa orang yang membuat produk tersebut.
  • Brand membangun hubungan emosional, bukan sekadar hubungan transaksional.
  • Nilai kemanusiaan menjadi pembeda di tengah persaingan industri fesyen.

Kubik Society seolah memahami bahwa kreativitas tidak hanya lahir dari desain pakaian, tetapi juga dari tangan-tangan terampil yang menjahit setiap helainya.

Ketika banyak brand berlomba menjadi yang paling viral atau paling mengikuti tren, Kubik Society memilih tampil dengan pendekatan yang lebih humanis.

Langkah sederhana ini justru menjadi pembeda yang kuat di tengah persaingan industri fesyen yang semakin padat.

Konsumen Modern Tidak Lagi Hanya Membeli Produk

Bukan tanpa alasan pendekatan seperti ini semakin banyak digunakan. Perubahan perilaku konsumen membuat nilai dan cerita sebuah brand kini sama pentingnya dengan kualitas produk yang ditawarkan.

Fenomena ini juga diperkuat oleh temuan Edelman dalam Edelman Trust Barometer Special Report.

Riset tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi salah satu pertimbangan utama konsumen sebelum membeli sebuah produk.

Kepercayaan tidak dibangun lewat slogan atau promosi semata, melainkan melalui tindakan nyata, nilai yang konsisten, dan komunikasi yang terasa autentik.

Artinya, konsumen modern mulai mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan membeli suatu produk, seperti:

  • Apakah brand memiliki nilai yang jelas.
  • Bagaimana brand memperlakukan orang-orang di balik bisnisnya.
  • Apakah komunikasi yang dibangun terasa jujur dan autentik.
  • Dampak yang diberikan brand terhadap masyarakat.

Inilah yang membuat brand dengan cerita yang kuat lebih mudah memperoleh perhatian sekaligus loyalitas konsumen dibanding brand yang hanya berfokus pada promosi produk.

Strategi Humanis Juga Diterapkan oleh BPKH

Pendekatan serupa juga terlihat dalam strategi komunikasi Badan Pengelola Keuangan Haji. Sebagai lembaga yang mengelola dana haji, BPKH sebenarnya memiliki banyak ruang untuk terus berbicara soal angka, investasi, tata kelola, atau berbagai informasi teknis lainnya.

Namun, dalam komunikasinya BPKH juga menghadirkan sisi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Alih-alih hanya mengedepankan informasi teknis, BPKH turut membangun komunikasi yang lebih mudah dipahami melalui kisah para pejuang haji, perjalanan jemaah, hingga dampak nyata pengelolaan dana haji bagi kemaslahatan umat.

Pendekatan ini membuat masyarakat tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga memahami nilai dan tujuan di balik setiap kebijakan yang dijalankan.

Keberhasilan komunikasi tersebut tidak hanya menghasilkan awareness, tetapi juga membangun emotional legitimacy.

Strategi komunikasi humanis Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang mengangkat kisah pejuang haji dan perjalanan jemaah untuk membangun kepercayaan publik.

BPKH menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif tidak hanya berisi informasi teknis, tetapi juga menghadirkan kisah para pejuang haji, perjalanan jemaah, dan manfaat pengelolaan dana haji sehingga mampu membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. (Istimewa/Instagram/@klatenkita)

Dengan kata lain, komunikasi yang dibangun membuat BPKH terasa lebih relevan, lebih berdampak, dan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat.

Narasi yang berkembang tidak lagi berhenti pada fungsi BPKH sebagai pengelola dana haji, melainkan bergeser menjadi bagaimana pengelolaan tersebut mampu menghadirkan manfaat, rasa aman, dan kemaslahatan bagi umat.

Apa yang Bisa Dipelajari Brand dari Kubik Society dan BPKH?

Contoh Kubik Society maupun BPKH menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang efektif tidak selalu dimulai dari promosi produk atau layanan.

Sebaliknya, brand dapat membangun hubungan yang lebih kuat dengan audiens melalui cerita yang autentik. Beberapa prinsip yang dapat diterapkan antara lain:

  • Mengangkat manusia di balik produk atau layanan.
  • Menunjukkan proses, bukan hanya hasil akhir.
  • Menceritakan nilai yang diperjuangkan brand.
  • Membangun kedekatan emosional sebelum menawarkan penjualan.

Produk memang dapat menarik perhatian, tetapi cerita yang autentik mampu membangun hubungan yang bertahan lebih lama. Hal yang dilakukan Kubik Society maupun BPKH membuktikan bahwa setiap brand sebenarnya memiliki cerita yang layak untuk dibagikan.

Di balik setiap produk, layanan, maupun organisasi selalu ada manusia, proses, tantangan, dan nilai yang bisa menjadi pembeda di tengah persaingan yang semakin padat.

Bangun Cerita Brand yang Lebih Humanis Bersama Literaworks

Di era ketika konsumen semakin kritis dan memiliki banyak pilihan, produk yang baik saja sering kali belum cukup. Brand membutuhkan cerita yang mampu membangun kedekatan emosional sekaligus menciptakan kepercayaan.

Melalui pendekatan yang dilakukan Literaworks, brand dapat menggali nilai yang dimiliki, menyusun narasi yang autentik, hingga mengukur dampak komunikasi melalui pendekatan berbasis data. Dengan begitu, setiap konten tidak hanya menghasilkan eksposur, tetapi juga membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang dengan audiens.