Merek busana lokal, Kubik Society, baru-baru ini ramai diperbincangkan. Strategi branding tersebut menarik perhatian warganet karena memberikan ruang bagi sosok yang selama ini jarang tampil di depan layar.
Kubik Society menampilkan nama, wajah, dan cerita singkat para penjahit di setiap label baju mereka. Hal ini bukan hanya identitas produk, tetapi menjadi bentuk apresiasi terhadap orang-orang yang selama ini bekerja di balik proses produksi.
Di balik Kubik Society ada Ahmad Fauzan Tirmidzi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berhasil membangun brand fesyen sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi para penjahit lokal di Kota Solo.
Nilai inilah yang kemudian membentuk identitas Kubik Society sebagai brand yang tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga menghargai manusia yang menciptakannya.
Di era mass market, industri fesyen dipenuhi produk dan merek baru yang terus bermunculan. Banyak brand berlomba-lomba merilis koleksi terbaru, mengikuti tren, hingga bersaing lewat harga.
Akibatnya, persaingan sering kali hanya berkutat pada model, harga, atau desain. Padahal, konsumen saat ini tidak lagi membeli produk hanya karena mereknya terkenal. Kubik Society justru menghadirkan nilai yang berbeda.
Mereka mengajak konsumen mengenal siapa yang menjahit pakaian tersebut, bagaimana prosesnya, serta nilai apa yang dipegang oleh brand. Produk yang dibeli akhirnya memiliki cerita yang membuat pengalaman berbelanja terasa lebih personal.
Pendekatan tersebut memberikan beberapa nilai tambah bagi konsumen, antara lain:
Kubik Society seolah memahami bahwa kreativitas tidak hanya lahir dari desain pakaian, tetapi juga dari tangan-tangan terampil yang menjahit setiap helainya.
Ketika banyak brand berlomba menjadi yang paling viral atau paling mengikuti tren, Kubik Society memilih tampil dengan pendekatan yang lebih humanis.
Langkah sederhana ini justru menjadi pembeda yang kuat di tengah persaingan industri fesyen yang semakin padat.
Bukan tanpa alasan pendekatan seperti ini semakin banyak digunakan. Perubahan perilaku konsumen membuat nilai dan cerita sebuah brand kini sama pentingnya dengan kualitas produk yang ditawarkan.
Fenomena ini juga diperkuat oleh temuan Edelman dalam Edelman Trust Barometer Special Report.
Riset tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi salah satu pertimbangan utama konsumen sebelum membeli sebuah produk.
Kepercayaan tidak dibangun lewat slogan atau promosi semata, melainkan melalui tindakan nyata, nilai yang konsisten, dan komunikasi yang terasa autentik.
Artinya, konsumen modern mulai mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan membeli suatu produk, seperti:
Inilah yang membuat brand dengan cerita yang kuat lebih mudah memperoleh perhatian sekaligus loyalitas konsumen dibanding brand yang hanya berfokus pada promosi produk.
Pendekatan serupa juga terlihat dalam strategi komunikasi Badan Pengelola Keuangan Haji. Sebagai lembaga yang mengelola dana haji, BPKH sebenarnya memiliki banyak ruang untuk terus berbicara soal angka, investasi, tata kelola, atau berbagai informasi teknis lainnya.
Namun, dalam komunikasinya BPKH juga menghadirkan sisi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Alih-alih hanya mengedepankan informasi teknis, BPKH turut membangun komunikasi yang lebih mudah dipahami melalui kisah para pejuang haji, perjalanan jemaah, hingga dampak nyata pengelolaan dana haji bagi kemaslahatan umat.
Pendekatan ini membuat masyarakat tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga memahami nilai dan tujuan di balik setiap kebijakan yang dijalankan.
Keberhasilan komunikasi tersebut tidak hanya menghasilkan awareness, tetapi juga membangun emotional legitimacy.

BPKH menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif tidak hanya berisi informasi teknis, tetapi juga menghadirkan kisah para pejuang haji, perjalanan jemaah, dan manfaat pengelolaan dana haji sehingga mampu membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. (Istimewa/Instagram/@klatenkita)
Dengan kata lain, komunikasi yang dibangun membuat BPKH terasa lebih relevan, lebih berdampak, dan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat.
Narasi yang berkembang tidak lagi berhenti pada fungsi BPKH sebagai pengelola dana haji, melainkan bergeser menjadi bagaimana pengelolaan tersebut mampu menghadirkan manfaat, rasa aman, dan kemaslahatan bagi umat.
Contoh Kubik Society maupun BPKH menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang efektif tidak selalu dimulai dari promosi produk atau layanan.
Sebaliknya, brand dapat membangun hubungan yang lebih kuat dengan audiens melalui cerita yang autentik. Beberapa prinsip yang dapat diterapkan antara lain:
Produk memang dapat menarik perhatian, tetapi cerita yang autentik mampu membangun hubungan yang bertahan lebih lama. Hal yang dilakukan Kubik Society maupun BPKH membuktikan bahwa setiap brand sebenarnya memiliki cerita yang layak untuk dibagikan.
Di balik setiap produk, layanan, maupun organisasi selalu ada manusia, proses, tantangan, dan nilai yang bisa menjadi pembeda di tengah persaingan yang semakin padat.
Di era ketika konsumen semakin kritis dan memiliki banyak pilihan, produk yang baik saja sering kali belum cukup. Brand membutuhkan cerita yang mampu membangun kedekatan emosional sekaligus menciptakan kepercayaan.
Melalui pendekatan yang dilakukan Literaworks, brand dapat menggali nilai yang dimiliki, menyusun narasi yang autentik, hingga mengukur dampak komunikasi melalui pendekatan berbasis data. Dengan begitu, setiap konten tidak hanya menghasilkan eksposur, tetapi juga membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang dengan audiens.