Strategi branding menjadi salah satu elemen terpenting dalam membangun daya saing sebuah destinasi wisata. Di era digital, promosi tidak lagi cukup mengandalkan keindahan objek wisata, tetapi juga harus mampu menghadirkan pengalaman yang relevan, autentik, dan mudah dibagikan melalui berbagai platform. Pendekatan tersebut terlihat dalam program 72 Jam di Solo, sebuah kampanye kolaboratif antara Pemerintah Kota Solo bersama Literaworks.
Program ini melibatkan lima key opinion leader (KOL) dari berbagai daerah untuk mengeksplorasi wisata budaya, sejarah, kuliner, hingga ruang kreatif di Kota Solo selama tiga hari. Seluruh perjalanan kemudian dikemas melalui storytelling digital untuk memperkuat citra Solo sebagai destinasi wisata budaya dan wellness tourism yang modern.
Strategi branding adalah upaya membangun identitas dan persepsi yang kuat terhadap suatu merek, organisasi, maupun destinasi. Dalam sektor pariwisata, strategi branding tidak hanya memperkenalkan tempat wisata, tetapi juga menciptakan pengalaman yang mampu membentuk kesan positif di benak wisatawan.
Melalui branding yang tepat, sebuah kota dapat memiliki karakter yang khas sehingga lebih mudah diingat sekaligus memiliki daya tarik yang berbeda dibanding destinasi lainnya. Program 72 Jam di Solo menjadi contoh bagaimana strategi branding tidak lagi berfokus pada promosi destinasi semata, melainkan membangun narasi yang membuat masyarakat ingin merasakan langsung pengalaman tersebut.
Salah satu kekuatan utama kampanye 72 Jam di Solo adalah penggunaan pendekatan storytelling. Alih-alih hanya menampilkan panorama wisata, para KOL diajak menceritakan pengalaman pribadi selama berada di Solo. Mereka membagikan cerita melalui Instagram Story, Feed, Carousel, Reels, video YouTube, artikel, hingga siaran radio.
Pendekatan ini membuat promosi terasa lebih autentik karena audiens melihat pengalaman nyata, bukan sekadar materi promosi yang dibuat secara formal. Melalui storytelling, Solo diposisikan bukan hanya sebagai kota yang memiliki banyak destinasi wisata, tetapi juga sebagai kota yang menawarkan pengalaman budaya yang hidup dan berkesan.
Pada hari ketiga program, para KOL berdiskusi bersama Wali Kota Solo, Respati Ardi, dalam sesi Afternoon Tea atau Lunch & Talk di Pura Mangkunegaran. Salah satu poin penting yang mengemuka adalah bahwa tantangan utama pariwisata Solo bukan terletak pada kurangnya destinasi wisata.
Sebaliknya, tantangan terbesar adalah bagaimana seluruh pengalaman tersebut dikemas menjadi produk wisata yang utuh, mudah diakses, serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Karena itu, para peserta tidak hanya diajak mengunjungi tempat wisata, tetapi juga merasakan langsung berbagai aktivitas budaya, antara lain:
Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi materi utama dalam seluruh narasi digital yang dibangun selama kampanye berlangsung.
Keberhasilan strategi branding tidak hanya ditentukan oleh pemerintah ataupun influencer. Program ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, yakni Pemerintah Kota Solo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama Literaworks, serta para kreator konten dari berbagai daerah.
Sinergi tersebut menghasilkan promosi yang lebih kredibel, memiliki jangkauan lebih luas, sekaligus mampu membangun citra kota secara konsisten. Selain mendokumentasikan perjalanan para KOL, kolaborasi ini juga menjadi ruang evaluasi mengenai berbagai aspek yang perlu diperbaiki agar kualitas pariwisata Solo semakin kompetitif di masa mendatang.
Strategi branding tidak akan berjalan optimal tanpa distribusi konten yang tepat. Dalam kampanye ini, seluruh konten tidak hanya dipublikasikan melalui akun pribadi para KOL, tetapi juga disebarluaskan melalui ekosistem media Solopos Media Group. Distribusi dilakukan melalui berbagai kanal, seperti Instagram @koransolopos, YouTube Espos Indonesia, portal berita espos.id, serta Radio Solopos.
Pendekatan multiplatform tersebut membuat kampanye mampu menjangkau berbagai kelompok audiens, mulai dari pengguna media sosial, pembaca berita digital, hingga pendengar radio. Konten pun hadir dalam berbagai format sehingga pesan yang disampaikan tetap relevan di setiap platform.
Diskusi bersama Wali Kota Solo juga menegaskan bahwa keberhasilan sebuah destinasi tidak lagi hanya diukur dari jumlah objek wisata yang dimiliki. Nilai sebuah destinasi justru terletak pada bagaimana pengalaman wisata dikemas menjadi perjalanan yang nyaman, menarik, mudah diakses, dan memberikan kesan mendalam bagi wisatawan.
Karena itu, strategi branding juga harus didukung oleh kualitas pelayanan, penyusunan itinerary yang menarik, keterlibatan masyarakat lokal, hingga kemudahan akses informasi. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi sektor pariwisata sekaligus memperkuat posisi Solo sebagai destinasi budaya yang relevan dengan tren wisata masa kini.
Storytelling mampu membangun hubungan emosional dengan audiens karena menghadirkan pengalaman nyata yang mudah dipahami. Dalam program 72 Jam di Solo, para KOL tidak hanya memperlihatkan tempat-tempat yang dikunjungi, tetapi juga membagikan cerita ketika mengikuti ritual budaya, belajar membatik, memainkan gamelan, hingga menikmati kuliner khas Solo.
Narasi tersebut membuat calon wisatawan dapat membayangkan pengalaman yang akan mereka rasakan ketika datang ke Solo. Inilah yang membuat storytelling menjadi salah satu strategi branding paling efektif dalam promosi destinasi wisata saat ini.
Program 72 Jam di Solo menunjukkan bahwa strategi branding yang berhasil tidak dibangun dari konten semata, melainkan dari pemahaman terhadap konteks, penyusunan narasi yang kuat, pemilihan kanal komunikasi yang tepat, hingga kemampuan mengukur dampak komunikasi secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut menjadi fondasi kerja Literaworks, agensi komunikasi strategis dari Solopos Media Group yang menggabungkan pendekatan jurnalistik, riset isu, analisis data, dan kreativitas untuk menghasilkan komunikasi yang relevan, dipercaya, dan berdampak. Literaworks meyakini bahwa komunikasi yang efektif tidak dimulai dari pesan, melainkan dari pemahaman terhadap konteks.
Karena itu, setiap strategi dirancang melalui empat pendekatan utama, yaitu:
Didukung pengalaman dalam menangani Strategic Communication, Content & Media Development, Digital & Data, Creative & Visual, hingga Event & Engagement, Literaworks telah dipercaya berbagai kementerian, lembaga pemerintah, BUMN, dan brand nasional sebagai mitra strategis dalam merancang komunikasi yang mampu membangun reputasi sekaligus menghasilkan dampak nyata. Literaworks siap menjadi mitra komunikasi strategis mulai dari memahami konteks, menyusun narasi, mendistribusikan pesan, hingga mengukur keberhasilan komunikasi secara menyeluruh.