Di era banjir informasi digital saat ini, batasan antara kritik, hiburan, dan pencitraan telah menjadi sangat tipis. Setiap bentuk ekspresi kini bisa bertransformasi menjadi bagian dari strategi komunikasi publik yang tak terduga. Salah satu contoh paling nyata yang sedang ramai diperbincangkan adalah fenomena viralnya lagu parodi “MBG: Mas Bahlil Ganteng” atau yang akrab dikenal warganet sebagai jingle “My Little Bolu Ketan”.
Lagu parodi ini menggunakan melodi sederhana dan lirik jenaka yang menyebut nama Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Dalam waktu singkat, audio tersebut digunakan oleh ribuan warganet di platform seperti TikTok dan Instagram Reels.
Namun, di balik riuhnya tawa warganet, ada sebuah mekanisme komunikasi strategis dan dinamika algoritma yang sangat kompleks sedang bekerja. Bagaimana sebuah parodi yang awalnya bernada satire bisa berbalik menjadi instrumen penguat popularitas?
Dilansir dari um-surabaya.ac.id, pada Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan, menilai fenomena “Mas Bahlil Ganteng” (MBG) ini menarik untuk dibaca sebagai bagian dari dinamika politik digital kontemporer di Indonesia.
Menurutnya, sosok Bahlil memiliki rekam jejak panjang dalam perdebatan media sosial, mulai dari gaya komunikasi politik, cara membangun kedekatan dengan publik, hingga berbagai kontroversi yang kerap memantik diskusi warganet.
Kemunculan MBG tidak lahir di ruang kosong, melainkan bertemu dengan memori kolektif netizen terhadap figur yang memang sudah lama menjadi objek perhatian digital. Dari kacamata komunikasi psikologis, kesuksesan lagu parodi ini didorong oleh beberapa faktor kunci yang saling berkelindan:
Algoritma media sosial seperti for you page (FYP) di TikTok atau explore di Instagram pada dasarnya buta terhadap konteks moral, satire, kritik, maupun ironi. Algoritma bekerja murni berdasarkan logika atensi dan keterlibatan (engagement rate) yaitu seberapa lama pengguna menonton, seberapa sering audio diulang, dan seberapa banyak komentar yang masuk.
Fenomena MBG ini menunjukkan bagaimana politik digital saat ini bergerak dalam logika algoritma, perhatian, dan percepatan viralitas. Menurut Radius, ini adalah ruang ketika batas antara kritik, hiburan, dan pencitraan menjadi semakin tipis.
Bagi para kreator konten dan komunikator korporat, fenomena parodi ini memang menawarkan peluang organik yang sangat menggiurkan untuk mendongkrak brand awareness. Namun, penting untuk ingat bahwa parodi di Indonesia masih berjalan di atas area abu-abu hukum dan etika:
Fenomena “Mas Bahlil Ganteng” membuktikan bahwa di era modern, komunikasi tidak lagi berjalan satu arah. Audiens aktif memproduksi ulang narasi melalui user-generated content (UGC) dan remix budaya.
Bagi organisasi, tokoh publik, maupun brand, kuncinya bukan lagi menghindari kritik atau menutup diri dari parodi, melainkan bagaimana mengelola percakapan digital tersebut secara strategis.
Terkait hal ini, Division Head of Program Management Office (PMO) Literaworks Tika Sekar Arum menilai peningkatan awareness tidak selalu selaras dengan peningkatan citra Bahlil sebagai sosok menteri yang kompeten.
“PR-nya adalah menjadikan aset awareness yang naik jadi modal kuat untuk membangun citra dengan narasi yang tepat,” kata dia.
Untuk menjaga reputasi jangka panjang organisasi Anda tetap aman, legal, dan berdampak positif, konten yang Anda bikin tidak hanya sekadar viral. Namun butuh mitra strategis yang berfokus pada penyusunan narasi berbasis konteks dan dampak nyata untuk membangun reputasi dan kebijakan.
Literaworks percaya bahwa setiap individu dan brand memiliki narasi unik yang layak dikelola secara profesional. Literaworks hadir dengan pendekatan strategic communication berbasis insight dan data, memastikan narasi Anda tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki arah yang jelas dan berkelanjutan.
Mari bangun narasi yang tidak hanya berisik di media sosial, tetapi juga bernilai strategis bagi masa depan organisasi Anda bersama Literaworks!